Surabaya – Di hari Jumat yang cukup terik, 17 April 2026, Masjid Hidayah Pakis Tirtosari Surabaya menjadi saksi berkumpulnya hati-hati yang rindu akan cahaya. Langkah-langkah jamaah berderap pelan, membawa harap dan doa, menyatu dalam saf yang rapat, menanti siraman makna dari mimbar yang sederhana namun mulia.
Khatib, Ustadz Ahmad Tholhah, membuka khutbah dengan ajakan yang tak pernah usang: bersyukur atas nikmat yang tak terhitung, dan berwasiat tentang takwa ilallah—sebuah pengingat bahwa hidup ini hanyalah perjalanan menuju-Nya. Suaranya mengalun tinggi, menembus relung jiwa, mengajak setiap yang hadir untuk menimbang kembali arah langkahnya.
Dalam untaian kata yang jernih, beliau mengurai hakikat manusia terbaik: bukan yang paling tinggi kedudukannya, bukan pula yang paling banyak hartanya, melainkan yang paling bermanfaat bagi sesama. Sebuah cermin yang jujur, tempat setiap diri bercermin—sudahkah keberadaan ini memberi arti?
Kini, kita berada di sepuluh hari terakhir Syawal, setelah ditempa oleh madrasah Ramadhan. Sebulan penuh kita dilatih menahan diri, membersihkan hati, dan menata niat. Namun ujian sejatinya justru dimulai setelahnya: mampukah kita menjaga amanah itu tetap hidup? Mampukah integritas yang dibangun tetap tegak, tak goyah oleh godaan dunia?
Kebermanfaatan, tutur beliau, bermula dari lingkaran terdekat: keluarga. Dari sana ia mengalir, meluas ke masyarakat, hingga akhirnya menyentuh bangsa. Kebaikan bukanlah gema kosong; ia kembali kepada pelakunya. Sebagaimana diisyaratkan dalam Surat Ar-Rahman, setiap amal adalah pantulan—jika yang ditanam adalah kebaikan, maka kebaikan pula yang akan dituai.
Namun di tengah harapan itu, terselip keprihatinan. Tingginya angka perceraian menjadi tanda tanya besar: adakah kebermanfaatan dalam lingkup keluarga telah mulai pudar? Rumah yang semestinya menjadi tempat bernaung justru retak oleh ego dan lalai. Maka, memperbaiki diri dalam keluarga adalah langkah awal memperbaiki umat.
Kisah Nabi Sulaiman pun disinggung—tentang amanah besar yang dipikul dengan penuh tanggung jawab. Kekuasaan tidak menjadikannya lalai, justru semakin mendekatkannya pada keadilan. Tidak korup, tidak menyalahgunakan titipan, melainkan menjaga dengan sebaik-baiknya. Dari kisah itu, tersirat harapan: semoga negeri ini dipenuhi insan-insan amanah, hingga kemakmuran dan kesejahteraan bukan sekadar angan, melainkan kenyataan.
Khutbah itu berakhir, namun pesannya tetap menggema lama: jadilah manusia yang bermanfaat. Sebab hidup bukan tentang seberapa lama kita ada, melainkan seberapa luas kebaikan yang kita tebarkan. (shp/ipg)



