Surabaya – Embun pagi masih bergantung di ujung daun, bening seperti air mata yang belum jatuh, ketika suara tausiyah mengalun pelan menembus sunyi di Masjid Hidayah, Pakis Tirtosari, Surabaya. Kajian Subuh 19 April 2026 itu terasa seperti bisikan langit—lembut, namun menggugah relung hati yang paling dalam. Ustadz Ahmad Soedjono membuka lembaran Maqolah 3.374, mengurai tanda-tanda zaman dengan suara yang tenang, seolah mengajak jiwa untuk bersiap, bukan untuk takut, melainkan untuk kembali.
Beliau menyebutkan bahwa pertikaian kian banyak. Dunia seperti riuh tanpa arah, manusia saling berhadapan tanpa jeda untuk memahami. Namun nasihat itu datang seperti air sejuk: kita tidak perlu menambah keruhnya keadaan. Di tengah ontran-ontran yang melanda Indonesia, manusia dijejali informasi tanpa sempat memilih dan memilah. Maka imanlah yang harus menjadi saringan, agar hati tidak ikut tercemar oleh kabar yang belum tentu benar.
Sendi-sendi masyarakat pun mulai rapuh. Kepercayaan, yang dahulu menjadi jembatan antarhati, kini retak oleh fitnah yang bertebaran. Fitnah itu menjadi kebiasaan, hadir dalam setiap interaksi—di jalan, di rumah, bahkan di tempat suci. Setan, dengan tipu dayanya, mampu menyusup ke ruang-ruang yang kita kira aman, bahkan hingga ke masjid. Maka menjaga hati menjadi lebih sulit, namun juga lebih mulia.
Tanda-tanda lain disebutkan dengan lirih namun tegas: manusia yang bertukar rupa, kehilangan jati diri yang telah ditetapkan. Laki-laki menyerupai perempuan, perempuan menyerupai laki-laki—sebuah kabut yang menutupi fitrah. Lalu bumi yang ambles tanpa peringatan, dan benda-benda yang jatuh dari langit tanpa diketahui sebabnya. Semua itu bukan sekadar fenomena, melainkan isyarat. Isyarat agar manusia kembali menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kehendak Ilahi.
Di tengah semua itu, Ustadz Ahmad Soedjono mengingatkan tentang derajat manusia di sisi Allah. Ada yang alim—yang berilmu, memahami kebenaran dengan jernih. Ada yang abid—yang tekun beribadah, mendekatkan diri dengan amal. Dan ada yang arif—yang bijaksana, mengenal Allah dengan hati yang hidup. Namun derajat orang alim disebut lebih tinggi, hingga tujuh puluh tingkat di atas yang lainnya. Sebab ilmu menjadi cahaya, yang membimbing ibadah dan melahirkan kebijaksanaan. Tanpa ilmu, amal bisa tersesat; tanpa ilmu, kebijaksanaan bisa keliru arah.
Waktu pun beranjak. Langit di ufuk timur mulai berwarna jingga, seolah membuka tirai hari dengan keindahan yang khusyuk. Cahaya pagi itu menjadi penutup tausiyah Ustadz Soedjono—bukan sekadar tanda berakhirnya kajian, tetapi juga pengingat bahwa setiap fajar di Masjid Hidayah, Pakis Tirtosari, Surabaya, adalah kesempatan baru. Kesempatan untuk memperbaiki diri, menjaga lisan, menenangkan hati, dan menapaki jalan menuju Allah dengan lebih sadar.
Di antara embun yang perlahan menguap, tersisa pesan yang menggema dalam diam: bahwa akhir zaman bukan hanya untuk ditakuti, tetapi untuk disadari—agar manusia kembali, sebelum semuanya benar-benar usai. (shp/ipg)



