HomeBeritaArtikel DakwahJadilah "Polisi" Bagi Diri Sendiri dan Lingkungan

Jadilah “Polisi” Bagi Diri Sendiri dan Lingkungan

Surabaya – Langit Surabaya siang itu cukup terik, cahaya matahari jatuh tanpa ragu ke bumi, menyelimuti jalanan dan atap-atap rumah dengan kehangatan. Namun panas itu tak mampu menyurutkan niat para jamaah untuk melangkah menuju Masjid Hidayah Pakis Tirtosari pada Jum’at, 24 April 2026. Justru di tengah terik itulah, hati-hati terasa semakin teduh, terpanggil untuk bersimpuh di hadapan Allah.

Saf-saf pun tersusun rapi. Hari itu, shalat dipimpin oleh Kapolsek Sawahan, Kompol Mulyono, SH, MH. Seorang abdi negara berdiri sebagai imam, menuntun jamaah dalam kesatuan gerak dan doa. Di hadapan Sang Pencipta, segala gelar dan jabatan luluh, menyisakan kerendahan seorang hamba yang mencari ridha-Nya.

Dari mimbar khutbah, KH Asrifin Nawawi menyampaikan nasihat dengan suara yang tenang namun menggugah. Mengutip hadis qudsi yang diriwayatkan Ibnu Abbas, beliau mengingatkan tentang enam perkara yang menjadikan shalat tak diterima oleh Allah. Di antaranya, hati yang tidak tawaduk, sikap sombong yang mengakar, serta kebiasaan maksiat dalam keseharian. Untaian kalimat itu seperti cahaya yang menembus relung jiwa, mengajak setiap jamaah untuk menunduk, merenung, dan memperbaiki diri.

Usai shalat, suasana tetap hangat dalam kebersamaan. Kapolsek Sawahan memperkenalkan diri dalam rangka Safari Jum’at. Pria asli Bonek ini baru empat bulan mengemban amanah di wilayah Sawahan. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh ketulusan, ia menyampaikan bahwa kasus yang menonjol di Sawahan adalah pencurian sepeda motor—sebuah persoalan yang membutuhkan kepedulian bersama.

Ia pun mengajak masyarakat untuk menjadi “polisi” bagi dirinya sendiri dan lingkungannya, menjaga, mengawasi, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Dan dengan keyakinan yang tegas, ia menuturkan bahwa bantuan polisi selalu siap. Cukup menghubungi 110, bebas pulsa—maka pertolongan akan datang.

Jum’at itu pun berlalu dalam balutan makna. Terik matahari seakan berubah menjadi saksi, bahwa di balik panas dunia, selalu ada kesejukan iman. Bahwa ibadah bukan sekadar gerak lahiriah, melainkan perjalanan hati—menuju kerendahan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. (shp/ipg)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments