Surabaya – Hari menapaki ujung April 2026 dengan langkah yang nyaris tak bersuara. Fajar merekah perlahan di ufuk timur, menumpahkan cahaya lembut ke pelataran Masjid Hidayah Pakis Tirtosari. Hembusan angin pagi yang sejuk seperti tasbih alam, mengalun lirih mengiringi Majelis Subuh—tempat hati-hati yang rindu berkumpul, menunduk dalam dzikir dan harap.
Di sana, Ustadz H. A Soedjono membuka majelis dengan Maqolah 3178, melanjutkan untaian hikmah Ahad yang lalu. Kata-katanya jatuh tenang, namun menembus relung jiwa: derajat orang alim melampaui abid dan arif—tujuh puluh kali lebih tinggi—karena ilmunya mengalir menjadi manfaat bagi sesama. Ilmu, bukan untuk meninggikan diri, bukan untuk “minteri” orang lain, melainkan untuk menerangi, menghidupkan, dan menuntun menuju ridha Ilahi.
Beliau berpesan lembut, namun tegas—khususnya kepada para ibu—agar setiap langkah menuju majelis ilmu dilandasi ridha suami. Sebab keberkahan tak hanya lahir dari niat yang baik, tetapi juga dari adab yang dijaga.
Lalu beliau menyinggung perbedaan ijtihad dalam shalat witir—antara yang menyisipkan tahiyat di dua rakaat, atau yang menyatu dalam tiga rakaat. Perbedaan yang bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipahami sebagai keluasan rahmat. Dan kembali beliau mengingatkan: shalat yang paling utama adalah di awal waktunya—ash-sholatu ‘ala waqtiha—karena di sanalah letak cinta seorang hamba yang bersegera memenuhi panggilan Rabb-nya.
Namun pagi itu tak hanya berisi kabar gembira. Dengan bahasa yang jernih dan contoh yang dekat, beliau mengupas sifat-sifat yang menggelapkan hati manusia. Sombong yang membumbung, berlebihan yang melampaui batas, lupa akan kematian, lupa asal dan tujuan, hidup yang sembrono, tabiat yang rusak. Bahkan agama pun bisa disalahgunakan demi kesuksesan dunia. Ketamakan, kesesatan, cinta dunia yang membutakan, keinginan untuk selalu menang sendiri—semuanya berakar dari satu lupa: lupa bahwa ada Dzat Yang Maha Agung, Allah SWT, yang melihat, menilai, dan membalas.
Contoh-contoh nyata beliau hadirkan, hingga terasa begitu dekat—tentang bagaimana teknologi, yang seharusnya menjadi sarana kebaikan, justru dapat dijadikan alat menyesatkan. Sebuah cermin bagi zaman yang serba cepat, agar manusia tak kehilangan arah.
Dan ketika tausiyah itu berakhir, langit Surabaya merona indah—seolah turut mengamini setiap nasihat yang terucap. Cahaya pagi menyapu wajah-wajah yang hening, membawa pulang bukan sekadar ilmu, tetapi juga peringatan dan harapan.
Di antara desir angin dan gema doa, hati pun berbisik lirih:
bahwa hidup ini singkat,
bahwa ilmu adalah amanah,
dan bahwa pada akhirnya,
semua akan kembali
kepada-Nya. (shp/ipg)



