Surabaya – Pagi itu, 1 Mei 2026, langit Pakis Tirtosari Surabaya seolah membuka tirainya dengan lembut. Cahaya mentari jatuh perlahan di halaman Masjid Hidayah, menyapa langkah-langkah ringan para ibu jamaah yang datang dengan hati penuh niat suci. Di tangan mereka, bukan sekadar kantong sayur dan bahan masakan, melainkan titipan kasih yang ingin mereka alirkan kepada sesama.
Di balik senyum sederhana, tersimpan doa-doa yang tak terucap. Setiap ikatan kangkung, sekeranjang ikan pindang, dan sebungkus bumbu dapur, menjadi saksi bahwa rezeki bukan hanya untuk dimiliki, tetapi untuk dibagi. Mereka bergerak bersama, seirama dalam kebaikan, menenun keberkahan di hari Jumat yang mulia.
Suara salam dan sapaan hangat mengalun seperti zikir yang hidup. Tak ada yang merasa lebih, tak ada yang merasa kurang—semua larut dalam rasa syukur yang sama. Tangan-tangan itu memberi, namun hati mereka justru terasa semakin penuh.

Jumat Berkah bukan sekadar kegiatan. Ia adalah cermin iman yang bekerja dalam diam, menghadirkan cinta dalam bentuk paling nyata. Dari Masjid Hidayah Pakis Tirtosari Surabaya, kebaikan itu mengalir. Aliran infak dan sodaqoh dari ibu-ibu Pengajian Fatimatuzzahra dan jamaah Masjid Hidayah kali ini dirupakan 60 paket sayur asem komplit beserta lauk dan bumbunya, dibagikan kepada jamaah perempuan yang shalat Subuh di masjid.
Di setiap langkah pulang, para ibu membawa lebih dari sekadar kelelahan. Mereka membawa ketenangan—bahwa hari itu, mereka telah menjadi perantara rahmat-Nya.
Sebab dalam memberi, mereka menemukan makna: bahwa keberkahan sejati bukan pada apa yang kita simpan, melainkan pada apa yang kita lepaskan dengan ikhlas. (ipg/shp)



